Cacat Janin karena Infeksi TORCH.

Bagi seorang wanita dewasa menikah dan kemudian memiliki anak yang sehat dan normal secara fisik, adalah suatu hal yang sangat di idamkankan, dan sempurna dirasakan sebagai wanita. Mungkin tidak terlalu masalah apabila seorang wanita terganggu fungsi repdroduksinya memang karena faktor genetis yang sudah menjadi takdirnya.Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi karena di akibatkan terinfeksi salah satu kuman penyakit, menyedihkan. Untuk itu para wanita terutama wanita dewasa berhati-hatilah jangan sampai terpapar oleh kuman yang bisa menggangu atau menggagalkan fungsi reproduksi yang sebenarnya normal.
Salah satu faktor penyakit yang bisa menyebabkan seorang wanita dewasa tidak memilki keturunan atau melahirkan seorang bayi yang tidak normal adalah TORCH.
Infeksi TORCH merupakan gangguan pada kehamilan yang bisa membahayakan janin. Jika infeksi ini diketahui di awal masa kehamilan, risiko penularan dari ibu pada janin bisa dikurangi sehingga cacat bawaan bisa dicegah.

TORCH adalah merupakan nama singkatan dari kuman yang merupakan peyebab dari penyakit tersebut (Toksoplasma, Rubela, Cytom:egalovirus/CMV, dan Herpes simplex) hal ini merujuk pada sekolompok infeksi yang dapat ditularkan dari ibu hamil kepada bayinya. Infeksi ini biasanya tidak bergejala, satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan tes serum darah.

Pakar imunologi Dr.Liliane Grangeot-Keros dari Paris menyebutkan, infeksi TORCH dapat menyebabkan 5-10 persen keguguran dan cacat bawaan pada janin yang meliputi gangguan pendengaran, retardasi mental serta kebutaan.

“Sebagian besar cacat itu bisa dicegah dengan melakukan skrining TORCH di trimester pertama kehamilan. Jika hasilnya negatif, para ibu bisa diberi edukasi pentingnya menjaga kebersihan diri. Namun jika hasilnya positif, dokter bisa memberikan pengobatan untuk menurunkan risiko transmisi dari ibu ke janin,” katanya dalam acara media edukasi ‘Mewaspadai TORCH pada Kehamilan’ di Jakarta (24/2/2011).

Di Indonesia, dari 54.000 kehamilan yang terinfeksi toksoplasma 70 persennya memiliki antibodi. Sementara itu, 60 persen wanita memiliki antibodi terhadap virus herpes simplex. Kendati demikian, 50-85 persen ibu hamil yang terinfeksi rubela di trimester pertama kehamilan janinnya beresiko tinggi mengalami cacat organ.

“Statistik menunjukkan, dari 10.000 ibu hamil yang hasil skriningnya positif TORCH, hanya 10 saja yang hasil diagnostiknya juga positif. Karena itu, skrining TORCH masih diperdebatkan keakuratannya,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Ia menambahkan, skrining prenatal hanya disarankan untuk mereka yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi, misalnya ibu yang terinfeksi HIV. “Untuk memberikan pengobatan pun standarnya adalah hasil diagnostiknya positif,” papar dokter dari divisi fetomaternal departemen Obgyn FKUI/RSCM Jakarta ini.

Pemeriksaan diagnostik dilakukan dengan cara pengambilan sedikit air ketuban untuk diperiksa di laboratorium. Hasilnya jauh lebih akurat dibanding dengan skrining berupa pengambilan darah. “Jika hasil skrining positif baru disarankan untuk melakukan diagnostik tes sebelum diberikan pengobatan,” tuturnya.

Saat ini, pemeriksaan TORCH masih tergolong mahal untuk kebanyakan masyarakat. Akan tetapi, menurut Keros tindakan preventif jauh lebih murah daripada kuratif.

“Mungkin biaya tes terasa mahal, tapi ongkos yang harus ditanggung jika bayi menderita cacat sangat mahal, bukan cuma dari sisi ekonomi tapi juga psikologis,” katanya.(jm/kh).

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s