PENDETA DAN PENATUA PEJABATKAH ATAU PELAYAN GEREJA?

Sekitar tiga bulan yang lalu terhitung ditulisan ini dibuat, penulis mengahadiri suatu ibadah hari minggu dimana penulis tercatat sebagai anggota jemaat. Ada yang lain dan beda di ibadah tersebut yakni imamnya dipimpin oleh tiga orang pendeta yang terbilang senior. Ternyata pada minggu tersebut bertepatan dengan pengangkatan atau pentahbisan penatua-penatua baru. Pengtahbisan penatua baru tersebut dilaksanakan oleh ke tiga orang pendeta yang menjadi imam pada ibadah minggu itu. Pada saat pengtahbisan penulis perhatikan seorang pendeta, ucapan pada proses ritual tersebut ada yang beda. Misalnya dua orang pendeta menyebutkan inti nya demikian “ saudara ABC aku mengangkat engkau untuk menduduki JABATAN penatua terhitung tanggal” dstnya. Tapi yang seorang pendeta mennyebutkan “ saudara DFG aku mengangkat engkau menjadi PELAYAN gereja untuk melayani jemaat Tuhan “dst. Dari ritual pengtahbisan / pengangkatan penatua baru tersebut, timbul pertanyaan dalam benak seperti judul di atas: “ Seorang pendeta atau penatua dalam menjalankan tugasnya digereja dapat disebut pejabat gereja atau pelayan gereja?”
Jika kita menyimak dan menelusuri dari dua kata yakni “Pejabat” dan “Pelayan” pasti kita setuju dua kata tersebut menpunyai arti yang berbeda. Kalau dua kata tersebut di atas misalkan kita pasangkan dengan kata “kantor” akan jelas menunjukan strata yang sangat berbeda bagi seseorang yang menyandangnya. Misal nya Si A menjadi pejabat di kantor C sedangkan si B menjadi pelayan dikantor C, ini sama artinya dengan si A adalah seorang direktur atau menager di kantor C, Sedangkan si B adalah seorang ”office boy” yang menjadi bawahan si A yang salah satu tugasnya melayani si A.
Ada beberapa buku / tulisan yang ditulis dengan bahasa asing (baca,Inggris), seorang pendeta atau evanglist di sebut “servant of God” (pelayan Tuhan) dan bukan di sebut “official of God” (pejabat Tuhan). Bahkan Tuhan Yesus sendiri di sebut “The Servant Of God”, dan bukan disebut sebagai The Official of God.
Ini yang menjadi salah sesuatu kekuatiran penulis sebagai salah satu anggota jemaat, apabila ada penafsiran dari beberapa orang orang yang di angkat atau di percayakan menjadi seorang penatua atau pendeta, yang merasa bahwa dirinya diangkat menjadi seorang “Pejabat” gereja sehingga berpikir bahwa jemaat itu adalah bawahannya dimana jemaat harus tunduk pada keinginannya sebagai sorang pejabat gereja. Seseorang yang diangkat dalam tugas tersebut kalau orientasi pemikiranya seperti itu akan menjadi sombong Rohani. Ini bukan suatu kekuatiran yang mengada-ada, karena sebagai seorang anggota jemaat pernah mengalami atau menyaksikan hal seperti itu. Salah satunya, yaitu kira kira setahun yang lalu penulis pernah menghadiri suatu ibadah kebaktian rumah tangga yang biasanya dilaksanakan pada setiap jumat malam setiap bulan yang bergiliran dirumah keluarga yang meminta. Pada acara tersebut ditunjuklah seorang pemandu acara oleh koordinatornya. Pada waktu pelaksanaan acara ada permintaan dari pihak rumah tangga untuk sedikit merubah atau menambah kata sambutan keluarga dalam acara tersebut. Dan koordinator acaranya menyetujui perubahan tersebut. Tetapi pada saat pelaksanaannya , seorang “penatua” merasa tidak setuju dan langsung mengambil alih acara tersebut, dan langsung menegur koordinator acara, laksana seorang atasan menegur/ memarahi bawahannya . Menurut sang koordinator acara, “beliau marah” karena sebagai seorang penatua “beliau” tidak di beri tahu.
Dalam kehidupan bergereja serta berjemaat bukankah hal-hal ini yang perlu dihindari yakni ego yang merasa lebih dari yang lain,karena sebagai seorang yang diangkat menjadi “sesuatu” merasa lebih berhak mengatur dari pada yang lain. Mungkin ini juga hal yang menyebabkan perpecahan dalam kehidupan berjemaat. Kita pernah melihat disekitar kita atau melalui berita bahwa ada sekelompok jemaat yang di pimpin oleh pendeta A terlibat perselisihan dengan sekelompok jemaat yang dipimpin pendeta B, ramai ramai terlibat “perang”memperebutkan gedung gereja. Mungkin Ini sebabkan karena kedua pendeta ini berpikir bawah satu satunya pejabat yang berhak memimpin jemaat adalah dia.
Mungkin perlu kita renungkan lagi kata -tata Tuhan Yesus bahwa “ Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani” . Tuhan Yesus turun kedunia ini dengan segala kemuliaan sebagai anak Allah, raja alam semesta, tidak datang untuk membanggakan sebagai seorang pangeran dari kerajaan Allah yang perlu disambut bah seorang pejabat duniawi. Sudah seharusnya seseorang yang di percayakan anggota jemaat menjadi “ sesuatu “ dalam kehidupan bergereja dapat mencontoh tauladan dari Tuhan Yesus, yang rela mati sebagai pelayan umatnya. Jadi yang benar Seorang pendeta atau seorang penatua sebagai seorang PEJABAT atau PELAYAN gereja, menurut anda?.(jiMyself).

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s